tuturku

Thursday, April 20, 2006

Harga Gengsi

Sejurus aku hampir meninggalkan Jakarta menuju ke Jogjakarta untuk singgah beberapa saat sebelum meneruskan perjalanan ke rumah.

Sebelum kusandarkan badanku ke kursi pesawat, kusimpan tas pakaianku ke bagasi di atas tempat dudukku, tiba-tiba ada aroma yang menyengat yang menyentuh indera penciumanku. Aroma khas BB! Penasaran kubiarkan hidungku mencari-cari sumbernya, ternyata tak jauh dari tempat aku duduk duduk pula beberapa orang yang aku rasa semuanya berawal dari situ.

Sedetik aku merasakan perasaan yang kurang enak berdekatan dengan mereka, tetapi selintas kemudian perasaan itu berangsur angsur luntur, aku merasa berdosa telah mengadili mereka dengan perasaan-perasaanku, toh ini bukan pesawat pribadiku yang mana orang bebas mau menumpangnya.

Aku jadi tertarik melihat tingkah polah mereka. Duduk di bangku jumlah 3, mengisi 2 baris. Kulihat mereka menggunakan pakaian layaknya orang kampung, jauh dari modern, bahkan setelah saya perhatikan ada dari mereka yang hanya menggunakan sandal jepit swallow warna hijau. Saya mengamati dia karena dia yang paling bisa saya perhatikan karena kita sama-sama duduk di gang. Beberapa saat setelah lepas landas, dia melepaskan sandal jepitnya kemudian menaruh kakinya diatas layaknya menaiki bis ekonomi non ac.

Saat itu aku trenyuh, tersentuh, sekaligus salut. Aku membayangkan tidak setiap kali mereka pulang kampung selalu menumpang pesawat karena bagi mereka naik pesawat adalah hal yang sangat mewah. Aku berpikir mereka sudah menyisihkan hasil dari pekerjaan mereka jauh jauh hari sedikit demi sedikit untuk dapat merasakan kursi pesawat dan terbang bersama-sama. Pastinya mereka menumpang pesawat bukan karena gengsi-gengsian ataupun dikejar waktu oleh pekerjaan.

Bagi mereka harga sebuah gengsi sesuatu yang mahal, yang dapat melambungkan mereka pada posisi lebih tinggi, dimana bakal menjadi kebanggaan untuk dapat membagikan pengalaman pada kerabat dan tetangga di kampung.

Pikiranku terlalu sempit dan memandang mereka kecil dengan menilai tampak luarnya saja, dari yang mereka kenakan. Karena justru aku yang merasa kerdil dibandingkan mereka, dengan bersembunyi dibalik modernitas, gengsi, dan tabiat kota besar yang sering meremehkan tak memberikan harapan dan kesempatan kepada mereka.

Antara Cengkareng - Jogjakarta, 13 April 2006, 3:33 PM

2 Comments:

  • cieee...
    co metropolitan tersadar nih? pdhl co metropolitan sehari-harinya hanya naik metromini jg kan? huehehe,,,piss lee :D

    By Blogger felicialevana, at 8:09 PM  

  • pandai merangkai kata juga loe heee.hee.. selain gambar... oke salut dech

    By Blogger stefanustedipurwanto, at 4:36 AM  

Post a Comment

<< Home